Pengedukasian Pengelolaan Sampah Wisata kepada Pelaku Usaha Kawasan Pantai Wisata

Erny Wahdini, Asmu’I Asmu’I, Monry Fraick Nicky Gillian Ratumbuysang

Abstract


Muara Asam-Asam Village, Jorong District, Tanah Laut Regency is a fishing village on the coast that has existed since 1968-1969. The Ministry of Environment and Forestry stated that the most dominant source of waste comes from households (48%), 24% of waste comes from traditional markets, and 9% from commercial areas. The rest comes from public facilities, schools, offices, roads, etc. The most widely produced types of waste are organic waste (food and plant residues), followed by plastic and paper. In this service activity, counseling was carried out on July 24, 2022, regarding waste sorting and appropriate waste management regarding the problem of waste in tourist attraction areas, especially beach areas for business actors, and the provision of a set of garbage bins to make it easier for business actors and visitors to Asmara Beach. Based on the results of previous research on the types of waste caused by business actors and tourist visitors to beach tourism objects in South Kalimantan, it was found that business actors cause more organic waste in the form of raw material residue and inorganic waste in the form of wraps or food packaging.  With this community service, it is hoped that waste management or its strategy must be carried out properly and correctly to maintain the beach's cleanliness. As well as increasing knowledge about how to sort waste for business actors in tourist beach areas so as to achieve cleanliness in the environmental area, especially Muara Asam-asam beach. 

 

Desa Muara Asam-Asam Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut adalah desa nelayan yang berada di pesisir pantai yang sudah ada sejak tahun 1968-1969. KLHK menyebutkan bahwa sumber sampah yang paling dominan berasal dari rumah tangga (48%) 24 % sampah berasal dari pasar tradisional dan 9% berasal dari kawasan komersial. Sisanya berasal dari fasilitas publik, sekolah, kantor, jalan dan sebagainya. Jenis sampah yang paling banyak dihasilkan adalah sampah organik (sisa makanan dan tumbuhan), kemudian plastik dan kertas. Dalam kegiatan pengabdian ini dilakukan penyuluhan pada tanggal 24 Juli 2022 mengenai pemilahan sampah dan pengelolaan sampah yang tepat guna mengenai permasalahan sampah kawasan objek wisata khususnya kawasan pantai bagi pelaku usaha dan pemberian satu set bak sampah guna mempermudah para pelaku usaha serta pengunjung Pantai Asmara. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya mengenai jenis sampah yang ditimbulkan oleh para pelaku usaha serta pengunjung wisata kawasan objek wisata pantai di Kalimantan Selatan, ditemukan bahwa pelaku usaha lebih banyak menimbulkan sampah organik berbentuk sisa bahan baku dan sampah anorganik berbentuk bungkus atau kemasan makanan. Dengan adanya pengabdian masyarakat ini, maka diharapkan pengelolaan sampah ataupun strateginya harus dilakukan dengan baik dan benar agar kebersihan pantai tetap terjaga. Serta bertambahnya pengetahuan tentang cara pemilahan sampah bagi pelaku usaha di Kawasan pantai wisata sehingga tercapainya kebersihan di kawasan lingkungan khususnya pantai Muara Asam-asam.


Full Text:

PDF

References


Affandi, A., Fatmawati, F., & Ma’ruf, A. (2015). Peran dinas tata ruang dan cipta karya dalam pengelolaan sampah di kabupaten bulukumba. Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan, 5(2), 107–121. https://doi.org/10.26618/ojip.v5i2.117

Awaluddin, muhammad yusuf, Prihadi, D. J., & Hasyir, D. A. (2011). Kegiatan bersih pantai (coastal cleanup) di pantai sindangkerta, kecamatan cipatujah, kabupaten tasikmalaya untuk mendukung kesadaran kebersihan pantai masyarakat setempat. Seminar Nasional Penelitian Dan Pengabdian Pada Masyarakat, 155–160. http://blogs.unpad.ac.id/myawaludin/2011/11/08/seminar-nasional-unisba-2011/

Dewi, R. P. (2017). Perancangan sistem pengelolaan sampah untuk mendukung perkembangan industri kreatif di daerah pariwisata. Prosiding Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu & Papers Unisbank, 3(Sendi_U 3), 217–221.

Dwiyanto, B. M. (2011). Penguatan sinergi dalam pengelolaan sampah perkotaan. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12(2), 239–256.

Fanani, Z., & Pangestuti, E. (2017). Analisis keamanan dan kenyamanan objek wisata penanjakan 1 bromo. Administrasi Bisnis, 49(2), 63–67.

Inayah, H., & Istiqomah, A. (2021). Nilai ekonomi sampah di kawasan wisata pantai tanjung bira, sulawesi selatan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 26(1), 159-166.

Jayantri, A. S., Ridlo, M. A., Islam, U., & Agung, S. (2021). Strategi pengelolaan sampah di kawasan pantai. Jurnal Kajian Ruang, 1(2), 147–159.

Khalik, W. (2014). Kajian kenyamanan dan keamanan wisatawan di kawasan pariwisata kuta lombok. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA), 01, 23–42. https://doi.org/10.24843/jumpa.2014.v01.i01.p02

Krisnani, H., Humaedi, S., Ferdryansyah, M., Asiah, D. H. S., Basar, G. G. K., Sulastri, S. R. I., & Mulyana, N. (2017). Perubahan pola pikir masyarakat mengenai sampah melalui pengolahan sampah organik dan non organik di Desa Genteng, Kecamatan Sukasari, Kab. Sumedang. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2).

Nugraha, A., Sutjahjo, S. H., & Amin, A. A. (2018). Analisis persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga di Jakarta Selatan. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 8(1), 7-14.

Qodriyatun, S. N. (2019). Implementasi kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan di karimunjawa. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 9(2), 240–259.

https://doi.org/10.46807/aspirasi.v9i2.1110

Yuantari, M. G. C., & Andrean, Y. A. (2022). Analisis ketersediaan sarana sanitasi dengan tingkat kenyamanan pengunjung di tempat wisata. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 21(3), 329-334.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


INDEXING: